RSS Feed

Antara Cinta, Bahasa dan Nasionalisme

16/11/2010 Astrian

(Demi menghormati penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tulisan di bawah ini diusahakan menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan)

Cinta Laura. Setiap orang pasti merasakan suatu efek tertentu jika mendengar nama itu disebut. Dan biasanya orang langsung mengaitkannya dengan logat Amerikanya yang kental, yang kemudian langsung dilanjutkan dengan hinaan dan cercaan terhadap logatnya tersebut. Dan anehnya, setelah sekian lama tidak terdengar beritanya lagi, tiba-tiba nama Cinta Laura muncul. Penyebabnya? Kedatangan Barack Obama ke Indonesia yang secepat kilat itu. Lucu sekali memang, bangsa Indonesia. Dua orang yang bahkan sama sekali tidak berhubungan, bisa dikaitkan begitu saja tanpa ada satupun orang yang memandang hal itu tidak wajar.

Tujuan pembicaraan saya pasti sudah bisa ditebak. Ya. Selepas Presiden Obama meninggalkan Indonesia dan bertolak menuju Korea Selatan, di Indonesia (setidaknya di dalam dunia hiburannya) orang malah mulai heboh membicarakan logat Cinta Laura. Betapa mereka (orang Indonesia) membanding-bandingkan kefasihan Obama mengucapkan BEBERAPA kata Indonesia dengan logat Amerika Cinta Laura saat berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka bilang, Obama yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Amerika, jauh lebih fasih berbicara bahasa Indonesia ketimbang Cinta Laura. Dengan nada menghina, mereka bilang, Cinta Laura seharusnya belajar bahasa Indonesia kepada Obama. Mereka begitu bangga Obama mengucapkan BEBERAPA kata Indonesia yang bahkan sebenarnya tidak berarti apapun untuk kepentingan negara ini. Tapi sudahlah, saya tidak ingin membicarakan apakah kedatangan Obama member manfaat pada negara ini. Itu bukan bidang saya. Saya hanya ingin mencoba meluruskan pendapat sebagian besar orang Indonesia terhadap logat Cinta Laura, agar negara ini sedikit lebih dewasa.

Saya sebenarnya sangat heran, kenapa orang Indonesia begitu senang menghina, mencerca dan menertawakan logat Cinta Laura yang katanya terdengar “kebarat-baratan” dan “terlalu dibuat-buat”. “Lebay” kata mereka.

Pertama, dari mana mereka bisa berkata dengan yakin bahwa logat tersebut dibuat-buat? Karena selama saya melihat Cinta Laura berbicara di tayangan televisi, tidak pernah terlintas di dalam pikiran saya bahwa logat tersebut palsu. Apalagi setelah tahu latar belakang Cinta Laura yang tumbuh besar di luar Indonesia. Tentu saja, seperti yang seharusnya kita tahu, logat dan gaya bicara seseorang dipengaruhi dari lingkungan sekitar pada saat dia tumbuh dan masih belajar mengenai hal-hal di sekitarnya. Dan itu akan melekat pada dirinya sampai waktu yang lama. Dan dengan alasan itu pula, orang tidak bisa serta merta membanding-bandingkan Obama dan Cinta Laura. Bisa dibilang, Obama (sempat) tumbuh di Indonesia dan Cinta Laura tumbuh di luar negeri. Jadi tentu saja, kefasihan berbicara bahasa Indonesia mereka berbeda (walaupun saya juga tidak mengakui bahasa Indonesia Obama terdengar fasih. Bahkan, jika ditanya tentang kefasihan, menurut saya Jorge Lorenzo lebih fasih berbahasa Indonesia ketimbang Obama. Ingat iklan Yamaha yang dibintanginya bersama Komeng?). Jadi perbandingan antara Obama dan Cinta Laura benar-benar tidak adil.

Kedua, apa sebenarnya yang dipermasalahkan oleh orang Indonesia tentang logat Cinta Laura? Apa bahasa Indonesianya tidak dapat dimengerti? Begitukah? Karena sejauh yang saya dengar, saya dapat mengerti dengan baik apa yang dibicarakannya. Memang, logatnya sedikit berbeda dari logat kebanyakan orang Indonesia. Tapi apa itu jadi masalah? Seharusnya tidak, mengingat dia tumbuh di luar negeri dengan lingkungan yang selalu menggunakan bahasa Inggris. Jadi hal itu seharusnya wajar. Banyak orang yang dengan seenaknya berkata jika berbicara dengan bahasa Indonesia, gunakan logat yang benar. Logat Indonesia. Jangan “kebarat-baratan”. Tapi memang, asal mengeluarkan komentar itu mudah. Coba kita pikir sekali lagi, apa mengubah logat itu mudah? Jika begitu, kenapa banyak orang yang sudah lama tinggal di Jakarta tapi masih terdengar logat daerahnya? Bahkan, aktor Hollywood pun tidak semudah itu berperan dengan menggunakan logat asing. Mereka diberi pelatih bahasa agar logatnya tepat dan sesuai dengan peran yang dimainkan. Tapi dengan pelatihpun, masih banyak aktor yang ternyata gagal menggunakan logat dengan benar. Ada yang ingat dengan logat Skotlandia Mel Gibson yang belepotan saat bermain di Braveheart? Atau ada yang pernah menonton film Ghostwriter karya Roman Polanski? Kim Cattrall berperan sebagai orang Inggris di dalamnya, namun ternyata logat Inggrisnya terdengar aneh. Padahal walaupun dikenal sebagai aktris Amerika lewat serial Sex and The City, Cattrall sebenarnya lahir di Inggris. Bahkan orangtuanya sendiri berdarah Inggris dan pastinya menggunakan logat Inggris dalam percakapan sehari-hari. Tapi apa pernah ada orang yang mempermasalahkan logatnya yang terlalu Amerika?

Simon Baker, saat berakting di serial The Mentalist harus menghilangkan logat Australianya dan beralih menggunakan logat Amerika. Tapi tidak jarang, logat aslinya itu tanpa sengaja terdengar juga. Padahal bahasanya masih sama. Sama-sama bahasa Inggris. Bahkan sebenarnya, logat Australia Baker juga tidak terlalu kental. Tapi memang sesulit itulah berbicara dengan logat yang tidak mendarah daging dalam diri seseorang.

Bahkan Johnny Depp, yang dikenal sebagai aktor yang selalu bisa menguasai logat asing dengan sempurna, pernah diminta untuk mengeluarkan logat Inggrisnya pada saat wawancara. Namun Depp berkata dia sudah lupa karena sudah agak lama sejak dia mempelajarinya. Jadi seharusnya setiap orang tahu bahwa mempelajari logat itu memang tidak semudah yang dibayangkan.

Jadi saya ingin tanya sekali lagi, apa kesalahan Cinta Laura sebenarnya? Jika memang masalah logat, kenapa hanya Cinta Laura yang disorot? Wahyu Suparno Putro yang sudah lama tinggal di Indonesiapun, masih berbicara dengan logat yang “kebarat-baratan”. Tapi kenapa tidak ada yang mempermasalahkan?

Beralih ke luar negeri, Mike Shinoda (篠田賢治) dari Linkin Park memiliki darah Jepang. Tapi Mike sendiri tidak bisa berbahasa Jepang. Lalu apa warga Jepang menghina-hina Mike pada saat Linkin Park promo ke Jepang?

Masih berhubungan dengan Jepang, Eiji Wentz (ウエンツ瑛士) dan Kaela Kimura (木村 カエラ), masing-masing adalah aktor dan musisi yang memiliki ayah berkebangsaan Amerika dan Inggris. Tapi keduanya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dan pada saat mereka menggunakan bahasa asing dengan kemampuan seadanya dalam karya mereka, apakah ada warganegara asing yang menertawakan kemampuan berbahasa mereka? Yah. Mungkin ada beberapa. Tapi setidaknya itu tidak menjadi masalah berkelanjutan.

Masih di negeri yang sama, Olivia Lufkin, atau lebih dikenal dengan nama pangung OLIVIA, adalah penyanyi Jepang keturunan Amerika. Dia menghabiskan masa kecilnya ‘bolak-balik’ antara Jepang dan Amerika. Dan akhirnya menetap di Jepang untuk berkarir sebagai penyanyi sekaligus musisi. Tapi sampai sekarangpun, kemampuan bahasa Jepangnya tidak mendekati kemampuan berbahasa penduduk aslinya. Bahkan jika dibandingkan, bahasa Indonesia Cinta Laura masih lebih lancar daripada bahasa Jepang Olivia. Tapi tidak satupun orang Jepang meributkan tentang kemampuan bahasa Jepangnya yang pas-pasan.

Jessica Alba memiliki darah Mexico. Tumbuh besar dalam budaya Amerika dan Mexico, dan sejak kecil sering mendengar bahasa Spanyol di lingkungannya. Tapi dia sama sekali tidak bisa berbahasa Spanyol. Saat mencoba belajar bahasa Spanyol, orang bilang, logatnya bagus. Tapi tetap saja, tidak satu kata pun dia mengerti. Bagaimanapun, tidak ada yang menyalahkan atau menuduh Alba melupakan darah Mexiconya hanya karena tidak bisa berbahasa Spanyol.

Ada yang suka menonton F1 atau MotoGP? Hapal dengan pembalap-pembalapnya? Penggemar balap pasti lebih akrab dengan keberagaman logat. Dari logat Italia, Spanyol, Finlandia, Jepang, India, semua ada di ajang tersebut. Dan apakah ada yang tertawa saat Kimi Räikkönen diwawancara? Atau Fernando Alonso? Atau Valentino Rossi dengan logat Italianya yang kental?

Lalu bagaimana kalau sekarang kita bayangkan Nadine Chandrawinata dan kedua adiknya yang kembar itu pindah ke Jerman dan merintis karir keartisannya di sana. Apa kira-kira orang Jerman akan mengerutkan dahi saat tahu mereka lebih fasih berbahasa Indonesia daripada berbahasa Jerman? Apakah orang-orang Jerman akan bertingkah seperti orang-orang Indonesia dalam mengomentari logat Cinta Laura?

Jika ini sebenarnya bukan masalah logat, tapi lebih ke masalah nasionalisme, masalah orang berdarah Indonesia yang bersikap dan bertingkah “kebarat-baratan” di tanah Indonesia, saya ingin menyebutkan satu contoh lagi.

Annisa Rania Putri. Ada yang kenal? Anak kecil yang disebut-sebut termasuk anak indigo. Yang disebut hebat karena sudah merilis beberapa buku bertema berat dan menguasai empat bahasa secara alamiah tanpa pernah mempelajarinya. Memang terdengar wah, bukan?! Annisa selalu menggunakan bahasa Inggris di manapun. Karena kabarnya, dia tak bisa berbahasa Indonesia. Dia bahkan menggunakan bahasa Inggris dalam ceramah atau kuliah-kuliahnya, dan didampingi penerjemah. Semua orang mengaguminya karena itu. Memang terdengar hebat jika mengingat fakta bahwa dia sudah ahli memberikan ceramah di usia semuda itu. Tapi entah kenapa, semua orang sepertinya lupa bahwa dia adalah orang Indonesia, yang lahir dari orangtua berdarah Indonesia dan tinggal di Indonesia. Karena tidak ada satupun orang yang mempertanyakan pilihan bahasa yang digunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Apakah tidak aneh seseorang yang berdarah asli Indonesia menggunakan bahasa Inggris saat berada di Indonesia? Kenapa tidak ada seorangpun yang mengatakan Annisa bersikap “kebarat-baratan”? Kalau Cinta Laura saja dituduh tidak cinta Indonesia, kenapa tidak ada yang menyebut-nyebut soal ketidakcintaan seorang Annisa Rania Putri terhadap Indonesia? Padahal dia tumbuh besar di Indonesia.

Apa yang membedakan dia dari Cinta Laura? Kenapa bukannya mempertanyakan, kita malah bangga terhadap Annisa? Apa karena dia anak kecil? Apa karena dia anak indigo? Karena dia jenius? Jika dia memang jenius, apakah tidak bisa dia sedikit menghormati tanah kelahirannya ini dengan belajar bahasa Indonesia dan berusaha menggunakannya di setiap kesempatan? Apalagi bahasa Indonesia bukan termasuk bahasa yang sulit dipelajari. Saya tidak tahu banyak tentang anak indigo, tapi mereka bisa menambah kemampuannya, bukan?! Walaupun ada kemampuan yang datang secara alamiah, tapi mereka juga bisa belajar untuk menjadi lebih pintar, bukan?! Tolong beritahu saya, jika ada yang lebih paham.

Sedikit tambahan, saya pernah membaca, Annisa tidak memanggil ibunya dengan sebutan “Ibu” atau “Mama”. Melainkan hanya nama. Sekali lagi, dia memanggil ibunya dengan sebutan nama saja. Wawasan saya tentang budaya Indonesia memang masih kurang luas, tapi saya tidak pernah tahu, bahwa memanggil orangtua dengan sebutan nama termasuk budaya Indonesia. Setahu saya, itu adalah budaya barat, yang jika diterapkan di sini malah akan terkesan kurang ajar.

Saya bukan ingin memojokkan Annisa di sini. Saya bahkan yakin dia jauh lebih pintar dari saya. Tapi jika ada orang yang pantas disebut “kebarat-kebaratan”, bukankah gelar itu lebih masuk akal jika diberikan pada Annisa dan bukan Cinta Laura? Terutama mengingat latar belakang Annisa yang jelas lebih Indonesia ketimbang Cinta. Kita bukan bangsa yang picik dan pilih kasih, bukan?!

Lalu bagaimana dengan Cas Alfonso Nainggolan? Oke. Mungkin sebaiknya kita sebut Cas Alfonso saja. Karena dia lebih dikenal dengan nama itu. Tapi saya rasa dia jauh lebih dikenal lagi sebagai kekasih (atau sudah suami?) Rianti Cartwright, karena saya sendiri belum pernah mendengar satupun karyanya (tapi mungkin itu salah saya, karena saya jarang nonton TV atau dengar radio). Pria yang mendewakan Chris Brown ini fasih sekali bahasa Inggrisnya, karena lama tinggal di New York. Bahkan dia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Padahal dia orang Indonesia dan lahir di Indonesia. Tapi tidak ada satupun orang yang mempermasalahkannya. Kenapa? Dengan mengutip komentar sebagian orang kepada Cinta Laura, yang berkata “Kalau cari duit di Indonesia, ngomong pake bahasa Indonesia dong!”, saya ingin mempertanyakan, kenapa komentar yang sama tidak ditujukan pada Cas Alfonso?

Di samping itu semua, saya juga ingin mengingatkan bahwa kitapun, sebagai orang Indonesia, juga turut memberikan andil dalam menghancurkan pelestarian bahasa Indonesia. Banyak di antara kita yang masih tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mau contohnya? Pertama, ada yang tahu perbedaan antara “bundar” dan “bulat”? Bagaimana dengan “seluruh” dan “semua”? Apa arti sebenarnya dari frase ”tidak bergeming”? Apa arti kata “acuh”? Ada yang masih suka boros kata-kata dengan mengucapkan “konon katanya” atau “agar supaya”? Kenapa orang Indonesia sering sekali mengucapkan “dunia entertain”? Padahal “entertain” itu kata kerja. Bukan kata benda. Dan juga bukan bahasa Indonesia.

Terus terang, saya merasa sedih mendengar cara anak-anak muda menggunakan bahasa Indonesia akhir-akhir ini (padahal saya sendiri bisa dibilang masih muda ^_^). Pengetahuan kosa kata yang sedikit, ketidakmampuan merangkai kalimat yang panjang dan kebiasaan mencampuradukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia dalam satu kalimat hanyalah sedikit contoh dari sekian banyak masalah yang kita hadapi.

Sebelum ada yang protes dengan mengatakan, “Tunggu sebentar, masalah Cinta Laura adalah masalah logat. Masalah gaya bicara. Ini tidak ada hubungannya”, biar saya jelaskan. Jika kita ikut kursus bahasa, apa yang pertama kali kita pelajari? Arti kata-katanya atau logat asli penduduknya? Bisa berbahasa Indonesia (atau bahasa apapun) tidak dinilai dari logat. Tapi dari pemahaman. Jika seseorang mendengar suatu bahasa dan mengerti artinya, dan jika seseorang berbicara dengan suatu bahasa dan kita mengerti apa yang dibicarakannya, itu sudah cukup untuk dapat dikatakan orang tersebut menguasai bahasa yang digunakannya.

Jadi bisakah kita melihat sesuatu dengan kacamata yang lebih besar? Menilai dengan cara yang bijak? Bersikap dewasa dan beralih ke masalah yang lebih penting dari sekadar masalah logat? Dan masalah kebanggaan terhadap negara, kita tidak berhak menilai siapapun atas hal itu. Apakah karena Cinta Laura berlogat Amerika, berarti dia tidak cinta Indonesia? Rasa bangga dan cinta ada di dalam hati. Logat seseorang dalam berbicara tidak menunjukkan kadar kebanggaan atau kecintaan terhadap negara. Banyak orang yang berdarah asli Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia seratus persen dengan logat Indonesia asli, tapi tetap tidak merasa bangga terhadap Indonesia.

Jika kita memang mengaku bangga dan cinta terhadap Indonesia, bagaimana jika kita sama-sama belajar dan berusaha melestarikan bahasa Indonesia dengan terus menambah wawasan kita dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Sebagai orang Indonesia, mari kita jaga bahasa Indonesia kita ini agar tetap abadi hingga ratusan tahun mendatang. Merdeka!

Sekian dan terima kasih.


No Responses

No comments yet.

Sorry, the comments are closed at this time.